Minggu, 03 November 2013

Sejarah Bungker Jepang di Bireuen

null
Inilah pintu utama bungker Jepang yang sedang dipugar di kawasan Cot Batee Geulungku, Kec. Simpang Mamplam, Bireuen

         MATAHARI kala itu sudah menyengat, waktu Ashar pun belum tiba. Minggu  beberapa waktu lalu, bersama rekan-rekan  mengatur waktu untuk menuju sebuah tempat, kira-kira 30 km dari pusat kota Bireuen ke arah barat.
Ya, kami sering mengatakan ini dengan istilah ekspedisi. Dimana mencari sesuatu yang kadang masih tertutup dan tidak banyak diketahui oleh publik. Tidak peduli itu belantara hutan, semak, atau pun pesisir laut, dimana ada tempat yang kira menarik untuk dikunjungi, kami siap mengarungi waktu. Kami sering membawa misi, “Ayo, menulis Aceh di Internet!” yang kami galakkan lewat “gencatan” blogger militan di Komunitas Blogger Aceh.
            Secuil kisah ini merupakan pengalaman yang luar biasa untuk pertama kalinya dalam hidup, bersama teman-teman komunitas kami mencoba mempelajari lagi sejarah yang pernah terjadi di dataran Bireuen ini. Dataran dimana pernah menjadi salah satu pusat peradaban, dan nilai-nilai sejarah yang kadang sering luput dari waktu dan mata-mata orang yang sibuk mengatur hidup untuk memenuhi perut sendiri.
Kali ini kami berkesempatan untuk mengunjungi sebuah benteng atau bisa disebut dengan bungker peninggalan Jepang pasca Perang Dunia II, yang sempat mendarat ke Aceh sekitar tahun 1942-1945.

            Bungker yang terletak dari kawasan Cot Batee Geulungku, Kecamatan Simpang Mamplam, Bireuen berada tepat di depan komplek Batalyon Infantri. Menurut informasi yang kami dapat, Kepala Bappeda Bireuen, Razuardi Ibrahim yang mengetahui keberadaan tempat sejarah tersebut dari hasil bincang-bincang bersama rekannya asal negara Jepang.
            Daerah perbukitan di Batee Geulungku memang tidak padat penduduk, kawasan ini sempat ingin dijadikan sentral kawasan industri untuk Kabupaten Bireuen.
Jika kita menuju Banda Aceh atau Medan, disekitaran jalan tersebut akan banyak kita temui para warga yang berjualan air tebu dan sering orang-orang yang hulu lalang di jalan raya berhenti sejenak untuk menikmati air tebu disana yang masih diolah dengan cara tradisional tanpa mesin.

            Setibanya kami di lokasi bungker yang kini sedang dilakukan pemugaran oleh warga sekitar, bungker yang lebih mirip gua bawah tanah ini mempunyai arsitektur beton. Dari sinilah kami menggali informasi lebih lanjut dari seorang mandor pekerja disana yang mengatakan bahwa untuk masuk ke dalam bungker ini memang sedikit mengerikan.
        “Beberapa pekerja yang melakukan pemugaran tempat ini, tidak ada satu pun yang berani masuk ke dalam,” kata Mandor kepada kami. Dari hasil amatan kami untuk memasuki bungker tersebut harus turun ke bawah lewat lebih kurang 15-17 anak tangga.
Pintu masuk yang berukuran 1×1,5 meter hanya bisa dimasuki oleh satu orang, menuju ke bawah mempunyai kedalam sekitar 5-6 meter dengan kondisi ruangan sangat gelap, tanpa ada penerangan. Namun, jika sudah berada di dasar bungker kita bisa menemui lubang-lubang cahaya yang sepertinya memang sengaja dirancang sebagai titik utama menuju jalan lainnya.
Tulang
      Jika diperhatikan dengan seksama, keadaan bawah bungker memang sedikit cadas. Nampak disalah satu sisi tulang belulang yang masih berserakan dan tertimbun lumpur di dalam bungker.
      Menurut warga yang pernah masuk kedalam bungker tersebut, seperti yang diutarakan oleh mandor, mereka menemukan berbagai rangka manusia, seperti tengkorak, rambut, serta tulang belulang lainnya.
Belum ada keterangan jelas, sisa-sisa tulang belulang dari masa kapan (perang Jepang, PKI atau masa konflik) yang ada di dalam sana. “Belum ada tim arkeologi atau sejarahwan yang turun dan meneliti langsung ke tempat ini,” kata mandor.

Jenis Benteng dan Bungker Jepang

Dari berbagi situs dan sumber pencarian tentang bungker Jepang di Bireuen ini, saya belum menemukan informasi yang spesifik kapan dibangun dan tujuan jika benar ini punya Jepang untuk membuatnya di atas bukit Cot Batee Geulungku.
Dalam bungker
Pemandangan di dalam bungker saat turun melewati anak tangga

         Karena jika kita melihat posisi strategis daerah Cot Batee Geulungku, sebelah utaranya berbatasan langsung dengan laut lepas, Samudera Hindia. Selain itu, panjang terowongan bawah tanah bungker ini diprediksi berjarak 2 km ke arah laut dan tembus sampai ke pantai Teupin Jalo, Simpang Mamplam.
Konon, pembuatan benteng lengkap dengan bungker oleh Jepang pada masa-masa sebelum merdeka menjadi tempat untuk pertahanan militer dan serangan dari sekutu.
Bentuk-bentuk pun beraneka ragam sebenarnya, salah satu bungker peninggalan Jepang masih sangat banyak bisa kita temukan di Sabang misalnya.
Bungker juga mempunyai fungsi yang bermacam-macam, misalnya sebagai tempat pengintaian, ruang tembak, ruang pertemuan, gudang dan dapur.
Ketebalan dinding rata-rata 50-70 cm, dari bahan beton bertulang, semen dan batu padas yang sudah tersedia di sekitarnya. Bungker-bungker biasanya dibangun saling berdekatan (30 m), serta dihubungkan dengan parit perlindungan yang berada di luar setinggi (1 m) pada umumnya.
Pemadangan di atas Cot Batee Geulungku
Pemandangan di atas Cot Batee Geulungku

         Para pekerja di bungker juga sempat menuturkan, kalau dulu-dulu tidak jauh dari bungker ini, ada empat unit benteng pertahanan lainnya yang dibangun oleh Jepang searah mata angin untuk melakukan penjagaan terhadap bunker itu. Karena termakan oleh usia, kini hanya tinggal dua benteng lagi karena dua lainnya telah lama rusak.

Buat Anda yang ingin berwisata/menjelajah masuk ke dalam bungker, jangan lupa persiapkan mental jasmani dan rohani dulu, baca do’a sebelum masuk, masker, senter/penerang, kamera video/camdig, jika memungkinkan bawa juga tabung oksigen untuk kebutuhan mendesak di dalam.


Artikel ini saya ikut sertakan dalam Bireun Blog Writing Competition 2014 

 
http://menulisbireuen.blogspot.com/ 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar