Inilah pintu utama bungker Jepang yang sedang dipugar di kawasan Cot Batee Geulungku, Kec. Simpang Mamplam, Bireuen
MATAHARI kala itu sudah
menyengat, waktu Ashar pun belum tiba. Minggu beberapa waktu lalu,
bersama rekan-rekan mengatur
waktu untuk menuju sebuah tempat, kira-kira 30 km dari pusat kota
Bireuen ke arah barat.
Ya, kami sering mengatakan ini dengan
istilah ekspedisi. Dimana mencari sesuatu yang kadang masih tertutup dan
tidak banyak diketahui oleh publik. Tidak peduli itu belantara hutan,
semak, atau pun pesisir laut, dimana ada tempat yang kira menarik untuk
dikunjungi, kami siap mengarungi waktu. Kami sering membawa misi, “Ayo,
menulis Aceh di Internet!” yang kami galakkan lewat “gencatan” blogger
militan di Komunitas Blogger Aceh.
Secuil kisah ini merupakan pengalaman
yang luar biasa untuk pertama kalinya dalam hidup, bersama teman-teman
komunitas kami mencoba mempelajari lagi sejarah yang pernah terjadi di
dataran Bireuen ini. Dataran dimana pernah menjadi salah satu pusat peradaban,
dan nilai-nilai sejarah yang kadang sering luput dari waktu dan
mata-mata orang yang sibuk mengatur hidup untuk memenuhi perut sendiri.
Kali ini kami berkesempatan untuk
mengunjungi sebuah benteng atau bisa disebut dengan bungker peninggalan
Jepang pasca Perang Dunia II, yang sempat mendarat ke Aceh sekitar tahun
1942-1945.
Bungker yang terletak dari kawasan Cot
Batee Geulungku, Kecamatan Simpang Mamplam, Bireuen berada tepat di
depan komplek Batalyon Infantri. Menurut informasi yang kami dapat,
Kepala Bappeda Bireuen, Razuardi Ibrahim yang mengetahui keberadaan
tempat sejarah tersebut dari hasil bincang-bincang bersama rekannya asal
negara Jepang.
Daerah perbukitan di Batee Geulungku
memang tidak padat penduduk, kawasan ini sempat ingin dijadikan sentral
kawasan industri untuk Kabupaten Bireuen.
Jika kita menuju Banda Aceh atau Medan,
disekitaran jalan tersebut akan banyak kita temui para warga yang
berjualan air tebu dan sering orang-orang yang hulu lalang di jalan raya
berhenti sejenak untuk menikmati air tebu disana yang masih diolah
dengan cara tradisional tanpa mesin.
Setibanya kami di lokasi bungker yang
kini sedang dilakukan pemugaran oleh warga sekitar, bungker yang lebih
mirip gua bawah tanah ini mempunyai arsitektur beton. Dari sinilah kami
menggali informasi lebih lanjut dari seorang mandor pekerja disana yang
mengatakan bahwa untuk masuk ke dalam bungker ini memang sedikit
mengerikan.
“Beberapa pekerja yang melakukan
pemugaran tempat ini, tidak ada satu pun yang berani masuk ke dalam,”
kata Mandor kepada kami. Dari hasil amatan kami untuk memasuki bungker
tersebut harus turun ke bawah lewat lebih kurang 15-17 anak tangga.
Pintu masuk yang berukuran 1×1,5 meter
hanya bisa dimasuki oleh satu orang, menuju ke bawah mempunyai kedalam
sekitar 5-6 meter dengan kondisi ruangan sangat gelap, tanpa ada
penerangan. Namun, jika sudah berada di dasar bungker kita bisa menemui
lubang-lubang cahaya yang sepertinya memang sengaja dirancang sebagai
titik utama menuju jalan lainnya.
Jika
diperhatikan dengan seksama, keadaan bawah bungker memang sedikit
cadas. Nampak disalah satu sisi tulang belulang yang masih berserakan
dan tertimbun lumpur di dalam bungker.
Menurut warga yang pernah masuk kedalam
bungker tersebut, seperti yang diutarakan oleh mandor, mereka menemukan
berbagai rangka manusia, seperti tengkorak, rambut, serta tulang
belulang lainnya.
Belum ada keterangan jelas, sisa-sisa
tulang belulang dari masa kapan (perang Jepang, PKI atau masa konflik)
yang ada di dalam sana. “Belum ada tim arkeologi atau sejarahwan yang
turun dan meneliti langsung ke tempat ini,” kata mandor.
Jenis Benteng dan Bungker Jepang
Dari berbagi situs dan sumber pencarian
tentang bungker Jepang di Bireuen ini, saya belum menemukan informasi
yang spesifik kapan dibangun dan tujuan jika benar ini punya Jepang
untuk membuatnya di atas bukit Cot Batee Geulungku.
Pemandangan di dalam bungker saat turun melewati anak tangga
Karena jika kita melihat posisi strategis
daerah Cot Batee Geulungku, sebelah utaranya berbatasan langsung dengan
laut lepas, Samudera Hindia. Selain itu, panjang terowongan bawah tanah
bungker ini diprediksi berjarak 2 km ke arah laut dan tembus sampai ke
pantai Teupin Jalo, Simpang Mamplam.
Konon, pembuatan benteng lengkap dengan
bungker oleh Jepang pada masa-masa sebelum merdeka menjadi tempat untuk
pertahanan militer dan serangan dari sekutu.
Bentuk-bentuk pun beraneka ragam
sebenarnya, salah satu bungker peninggalan Jepang masih sangat banyak
bisa kita temukan di Sabang misalnya.
Bungker juga mempunyai fungsi yang
bermacam-macam, misalnya sebagai tempat pengintaian, ruang tembak, ruang
pertemuan, gudang dan dapur.
Ketebalan dinding rata-rata 50-70 cm,
dari bahan beton bertulang, semen dan batu padas yang sudah tersedia di
sekitarnya. Bungker-bungker biasanya dibangun saling berdekatan (30 m),
serta dihubungkan dengan parit perlindungan yang berada di luar setinggi
(1 m) pada umumnya.
Pemandangan di atas Cot Batee Geulungku
Para pekerja di bungker juga sempat menuturkan, kalau dulu-dulu tidak jauh dari bungker ini,
ada empat unit benteng pertahanan lainnya yang dibangun oleh Jepang
searah mata angin untuk melakukan penjagaan terhadap bunker itu. Karena
termakan oleh usia, kini hanya tinggal dua benteng lagi karena dua
lainnya telah lama rusak.
Buat Anda yang ingin
berwisata/menjelajah masuk ke dalam bungker, jangan lupa persiapkan
mental jasmani dan rohani dulu, baca do’a sebelum masuk, masker,
senter/penerang, kamera video/camdig, jika memungkinkan bawa juga tabung
oksigen untuk kebutuhan mendesak di dalam.
Artikel ini saya ikut sertakan dalam Bireun Blog Writing Competition 2014
http://menulisbireuen.blogspot.com/
Artikel ini saya ikut sertakan dalam Bireun Blog Writing Competition 2014
http://menulisbireuen.blogspot.com/
Tidak ada komentar:
Posting Komentar